Benang di Perjalanan

Standar

Bukan tak melelahkan, setiap detik selama hampir 1 tahun berkutat dengan hal yang sama, mendapat tekanan yang sama bahkan semakin lama berkutat semakin intensif pula tekanan yang datang. Perjalanan ini bukan hanya mengajarkan padaku tentang satu dan banyak hal, tentang kesabaran, tentang manajemen konflik (batin dan waktu) demi tercapainya sebuah tujuan, tentang pencarian solusi seiring munculnya banyak permasalahan, tentang bertanggung jawab pada hal-hal yang telah aku pilih untuk diselesaikan, tentang kebertahanan. Namun juga membentukku agar menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap. Perjalanan ini mengoyak-ngoyak diri agar siap saat melangkahkan kaki ke luar pintu untuk ikut berbaur dengan kerasnya dunia, nanti, ketika sudah saatnya—yang semoga—sebentar lagi akan kutemui.

Pada waktu dan perjalanan hidup yang telah aku lalui hingga di titik ini, satu yang harus kupegang teguh adalah yakin bahwa benang takdir yang sedang kujalani saat ini akan membawaku kepada benang-benang lain. Yakin bahwa Tuhan tidak pernah secara kebetulan membawa aku pada tempat di mana aku bersinggah saat ini. Maka keyakinan tersebut pada hakikatnya direalisasikan dengan keikhlasan dalam menapaki setiap langkahnya. Dan pada setiap salah langkah yang pernah menjungkirbalikkan hati dan perasaan, bukan lagi hanya dibayar dengan rasa penyesalan, melainkan perbaikan-perbaikan. Semoga, aku, dan kita, mampu untuk segera memahami kemana langkah ini akan bermuara.

Dari aku, seseorang yang sedang tertatih menyusun tugas akhir. Doakan agar kewajiban ini segera tertuntaskan.
Yogyakarta, 21 Agustus 2018.

Iklan

GUSAR

Standar

Aku berharap suatu saat nanti akan datang hari, dimana semua kegusaran ini perlahan hilang, entah karena kita yang perlahan jauh melanglang sampai tak lagi satu sama lain melihat bayang. Atau karena kita yang tak lagi meradang bahkan tak ingin memberikan ruang pada kegusaran untuk merenggang.

“Kita akan menjadi siapa?”, terka-ku pada “kita” di masa depan.

Yogyakarta, 14 Agustus 2018.

Aku, manusia perasa

Standar

Katanya, pada asa, pilihannya hanya ada dua, bahagia atau kecewa. Bahagia pada saat merasa sempurna. Kecewa pada hal-hal yang mungkin tidak dia rasa, dan ternyata dia lupa, bahwa aku manusia yang sangat perasa.
Ah,
Salahnya menjadi manusia perasa, manusia frasa.

Untuk Bertahan

Standar

Diantara pilihan-pilihan yang ada aku memilih bertahan. Ingin berjalan namun tertahan. Ingin berlari namun terhenti. Dan jika berdiam, aku tertikam.
Aku pernah benar-benar tidak tahu, bahwa mendekat-dan-menjauh padamu-dan-darimu memiliki definisi yang sama: sesuatu yang mampu menghancurkan hatiku. Maka aku memilih untuk bertahan.

— Yogyakarta, 26 Januari 2017

Dari seorang kawan

Standar

Meskipun pada akhirnya semua harus berjalan sendiri-sendiri. Dalam jarak yang tidak bisa ditempuh dalam satu-dua langkah nantinya, tetaplah membersamai, tetaplah menguatkan.

Cangkringan, Yogyakarta, 16 Desember 2017.

Rumah Baru

Standar

Pada rumah yang megah
Tersembunyi sebuah retak yang merekah
Pada rumah yang nyaman
Tak mampu lagi memberi rasa aman
Aku-ingin-rumah-baru..

— Yogyakarta, 13 Desember 2017

Padahal Rindu

Standar

Bahkan ketika waktu berlari, lakuku tetap sama: mengambil serpihan-serpihan memori yang berserakan hingga ke ujung jalan. Semakin banyak memori yang kusimpan, semakin banyak pula yang kembali berjatuhan: karena jika hanya aku, takkan pernah sanggup ku menggenggam semuanya. Lalu kuputuskan untuk membenamkannya dalam hujan, larut bersama kenangan, mengalir, dan bermuara di samudera. Hingga tiba ketika semuanya menyatu, tersisa aroma kenangan yang menusuk ragaku, bukan lagi wujud mereka, ataupun kamu. Dan kemudian, kita hanyalah lalu. Padahal, aku rindu.

— Yogyakarta, 05 Desember 2017.