Aku, manusia perasa

Standar

Katanya, pada asa, pilihannya hanya ada dua, bahagia atau kecewa. Bahagia pada saat merasa sempurna. Kecewa pada hal-hal yang mungkin tidak dia rasa, dan ternyata dia lupa, bahwa aku manusia yang sangat perasa.
Ah,
Salahnya menjadi manusia perasa, manusia frasa.

Iklan

Untuk Bertahan

Standar

Diantara pilihan-pilihan yang ada aku memilih bertahan. Ingin berjalan namun tertahan. Ingin berlari namun terhenti. Dan jika berdiam, aku tertikam.
Aku pernah benar-benar tidak tahu, bahwa mendekat-dan-menjauh padamu-dan-darimu memiliki definisi yang sama: sesuatu yang mampu menghancurkan hatiku. Maka aku memilih untuk bertahan.

— Yogyakarta, 26 Januari 2017

Dari seorang kawan

Standar

Meskipun pada akhirnya semua harus berjalan sendiri-sendiri. Dalam jarak yang tidak bisa ditempuh dalam satu-dua langkah nantinya, tetaplah membersamai, tetaplah menguatkan.

Cangkringan, Yogyakarta, 16 Desember 2017.

Rumah Baru

Standar

Pada rumah yang megah
Tersembunyi sebuah retak yang merekah
Pada rumah yang nyaman
Tak mampu lagi memberi rasa aman
Aku-ingin-rumah-baru..

— Yogyakarta, 13 Desember 2017

Padahal Rindu

Standar

Bahkan ketika waktu berlari, lakuku tetap sama: mengambil serpihan-serpihan memori yang berserakan hingga ke ujung jalan. Semakin banyak memori yang kusimpan, semakin banyak pula yang kembali berjatuhan: karena jika hanya aku, takkan pernah sanggup ku menggenggam semuanya. Lalu kuputuskan untuk membenamkannya dalam hujan, larut bersama kenangan, mengalir, dan bermuara di samudera. Hingga tiba ketika semuanya menyatu, tersisa aroma kenangan yang menusuk ragaku, bukan lagi wujud mereka, ataupun kamu. Dan kemudian, kita hanyalah lalu. Padahal, aku rindu.

— Yogyakarta, 05 Desember 2017.

Kehidupan

Standar
Yang patah, tumbuh.
Yang hilang, berganti.
Yang hancur lebur, akan terobati.
Yang sia-sia, akan jadi makna.
Yang terus berulang, suatu saat henti.
– Banda Neira

Generasi Penganut Smartphone

Standar

Suka gemes sendiri ngeliat generasi penganut smartphone (generasi nunduk). Perkembangan teknologi bener-bener merubah pola hidup manusia, pollll. Kalo ditinjau ulang dan mencoba melihat kaleidoskop kehidupan gue dari kecil dulu tahun 1990-an sampai sekarang, gak kehitung berapa banyak teknologi yang udah terbaharui. Zaman-zamannya hp nokia layar hitam putih dengan game andalannya: snakes, adalah handphone terbeken pada masanya, sampe pada tahap dikembangkannya Artificial Intellegence sehingga tercipta benda persegi panjang yang ada dalam genggaman semua orang: smartphone. Merupakan suatu proses perkembangan yang sebegitu cepat tahapannya sampe gue ga bisa bayangin betapa kerasnya usaha researcher di bidang IT yang harus selalu mengeluarkan inovasi-inovasinya supaya mereka bisa tetap eksis dan gak kalah saing.

Tapi dibalik itu, perkembangan teknologi yang semakin memberikan kemudahan membuat penggunanya diberikan banyak pilihan: menggunakan teknologi tsb secara bijak, atau tidak. Gaperlu gue sebutin satu-satu pemanfaatan teknologi seperti apa yang bijak dan tidak bijak. Gue yakin lo bisa menilai mana yang bijak dan tidak bijak. Contoh sederhananya adalah: menjadi penganut smartphone. Lo bisa bayangin gak ketika lo diajak makan sama temen lo, abis lo terima ajakannya, pas lagi makan lo malah dicuekin karena si doi asik sendiri dengan hpnya? Diajak ngobrol cuma respon seadanya. Terus pas lo ngintip, dikira dia sibuk sama sesuatu, ternyata cuma liat-liat insta*ram. Bete? Jelas! Lain kali ajak mamam aja tu hp lu! Sedih gue🤧 Dan dari situ gue semakin yakin, bahwa eksistensi manusia akan kalah dengan Artificial Intellegence bukan hanya dalam bidang pekerjaan, tapi juga dalam hal sosialize. Tau Sophia? Robot canggih berkewarganegaraan Arab Saudi yang punya 62 ekspresi seperti manusia dan punya kemampuan layaknya robot (jelas mampu memudahkan pekerjaan manusia), hmm cukup humoris pula itu robot. Jangan-jangan kedepannya manusia akan prefer untuk berinteraksi dengan robot daripada dengan manusia lainnya. Lalu kemudian? Dunia ini dikuasai oleh robot-robot yang jauh lebih cerdas-kuat-dan-tanggap dibandingkan manusia. Well, itu sangat memungkinkan.

So please, be wise dalam menggunakan teknologi, be care dengan segala hal yang ada di lingkungan lo. Sedih ketika melihat semua orang disekitar lo sibuk dengan smartphonenya masing-masing lalu kemudian lo juga memilih untuk tenggelam di dalamnya karena tidak mau dianggap kudet-bin-jones karena gak main smartphone sendirian. Memang, dengan teknologi dan semua informasi yang tercover di dalamnya mampu memberikan kemudahan-kemudahan kepada manusia, tapi jangan lupakan bahwa lo juga makhluk sosial, yang harus menciptakan hubungan-hubungan baik dengan manusia, karena dari hubungan baik tersebut, sesama manusia juga dapat saling membantu to? Saling memudahkan. And I do believe, eksistensi manusia dapat tetap bertahan dan tidak tergantikan apabila antar manusia dengan manusia lainnya bisa saling menghargai. Ya, keyakinan saya sesederhana itu.

– Yogyakarta, 12 November 2017